Sejarah Singkat

Gagasan Awal

Pada dasawarsa 60-an, terdapat banyak lulusan SMP yang terpaksa harus melanjutkan pendidikan ke kota Surabaya atau daerah lain karena tidak adanya SMA Negeri di wilayah Sidoarjo, suatu keadaan yang menambah beban bagi setiap orang tua atau wali.

Menindaklanjuti kondisi tersebut beberapa orang melakukan konsultasi ke beberapa pejabat Pemerintahan termasuk diantaranya para anggota Muspida dan kalangan legislatif dan memperoleh tanggapan yang positif. Langkah berikutnya dengan menghimpun beberapa tokoh pengusaha untuk diajak berpartisipasi secara aktif, seperti H. Moh. Iksan, H. Moh. Syakir, Goo Hong Ling, dan Maksum Achmadi. Mereka mengajukan beberapa argumentasi sebagai masukan yang cukup berbobot, di satu sisi mereka pun setuju untuk berkontribusi berupa pendanaan. Sebagai langkah akhir pengembangan gagasan, pendekatan dilanjutkan ke tokoh pendidik dan para cendekiawan termasuk Kepala Sekolah Menengah Pertama dan Kejuruan baik swasta maupun negeri di kota Sidoarjo dan sekitarnya. Ternyata “pucuk dicinta ulam pun tiba”, ide tersebut telah ditunggu-tunggu, mereka sepenuhnya akan membantu bahkan siap sebagai “pengajar” kalau perlu untuk sementara dengan sistem “kerja bakti”.

 

Pembentukan Panitia

Setelah melakukan konsultasi dengan beberapa pihak, dilakukanlah evaluasi secara rinci dan inventarisasi permasalahan yang perlu segera ditangani sebagai modal dasar untuk membentuk kepanitiaan yang dapat menampung, mengolah, dan mewujudkan aspirasi masyarakat. Pada tanggal 12 Mei 1961 bertempat dikediaman Bapak A. Chudori Amir Jalan Diponegoro No. 137 Sidoarjo, Panitia SMA Negeri  Sidoarjo berhasil dibentuk dengan ketua M. Ghufron Naam, sekretaris Hermaini Isa, dan bendahara H. Moh. Iksan.

Dengan penuh optimisme, Ketua, M. Ghufron Naam, segera berangkat ke Jakarta dengan mandat penuh dan Farchan Achmadi bersedia menjadi pendamping sekaligus bertindak sebagai sponsor. Langkah menuju penegerian berlangsung secara mulus dan lancar, hampir tidak ada kesulitan sama sekali. Dalam waktu kurang dari satu minggu Ketua mendapat informasi dari Kementerian P dan K bahwa Surat Keputusan penegerian akan segera diterbitkan, tetapi sebelumnya Pemerintah akan melakukan pemeriksaan terakhir di Sidoarjo mengenai tingkat kesiapan panitia secara teknis, gedung, sarana dan sebagainya.

 

Terbentuknya SMA Negeri Sidoarjo

Guna menyongsong kedatangan tim dari Jakarta, Ketua segera kembali ke Sidoarjo dan tugas-tugas di Jakarta diserahkan kepada Ir. Supardan yang kebetulan waktu itu berada di Jakarta. Karena belum jelasnya kedatangan tim dari Jakarta, Ketua menugaskan Saudara Hermaini Isa dan Drs. Agus Salim untuk segera berangkat ke Jakarta untuk mengambil “SK” manakala telah selesai. Tidak lama sesudah itu, Saudara Hermaini Isa kembali dari Jakarta dengan membawa Surat Keputusan mengenai SMA Negeri  Sidoarjo tanpa embel-embel “Persiapan”, bernomor 21/B/III/1962. Berita gembira tersebut segera disampaikan kepada Bupati KDH Tk. II Sidoarjo dan anggota Muspida yang lain.

Setelah seluruh persiapan pembangunan gedung yang ditangani Pemerintah Daerah dianggap selesai, secara berangsur-angsur beberapa kelas mulai dipindah ke gedung baru dijalan Jenggolo No. 1 termasuk seluruh kegiatan administrasi sekolah, sedangkan sisa kelasnya sementara menempati gedung “Panti Asuhan Kesatria” di jalan A. Yani Sidoarjo ( gedung Telkom sekarang), sambil menunggu penambahan lokal pada gedung yang baru. Di akhir tahun 1962 inilah, tugas-tugas Panitia mulai dialihkan pada pimpinan sekolah baru yang dijabat oleh Bapak Satmoko sebagai Kepala SMA Negeri Sidoarjo yang pertama. Dan, tanpa melalui proses “hura-hura” Panitia Persiapan SMA Negeri  Sidoarjo membubarkan diri dengan perasaan puas bercampur bangga.

 

Menjadi SMA Negeri 1 Sidoarjo

Sejak tahun 1989, SMA Negeri  Sidoarjo ditetapkan sebagai SMA Negeri 1 Sidoarjo karena mulai bermunculannya SMA Negeri lain di Sidoarjo. SMA Negeri 1 Sidoarjo tetap berjalan dan terus berjalan sesuai dengan derap pembangunan. Entah sudah berapa ribu siswa hasil godokan SMA ini menyebar-luas ke seluruh penjuru Tanah Air, menjadi tokoh masyarakat, pimpinan pemerintahan, ekonom, teknisi, cendekiawan, dan sebagainya. Diakui atau tidak, peranan tokoh-tokoh seperti Satmoko, Imam Muhammad Hanafi, Bambang Poerwono, Soewono Idris, Dra. Hj. Siti Masjithoh, R. Moh. Agil, H. Haroen Soemawinata, H. Abd. Mukti, S.Pd., Drs. H. Sahudi,M.Pd., Dra. Hj. Ani Kadarwati, M.Pd., Dra. Endang Untariningsih, M.Pd., Drs. Ponadi Abdullah, dan Drs. H. Sukemad, M.Pd. serta tokoh lainnya yang telah berjasa meletakkan dasar kepemimpinan dan keberhasilan segenap lulusan SMA ini, baik dulu, sekarang, maupun di masa mendatang.